11009107_734220350008472_853381777193264697_n

Iklan

Software / Program yang dibutuhkan

–        MySQL 4.0

–        MySQL-Front

–        XAMPP  www.apachefriends.org/en/xampp-windows.html

–        WordPress www.wordpress.org

 

  1. Anda ekstrak hasil downloadWordPress tadi di server localhost anda misal di E://localhost/
  2. Buat database untuk WordPress di MySQL Front 

    * Klik kanan di Localhost pada MySQL -> New -> Database

    * Masukkan nama database , Misal dbwordpress

    * Klik OK

  1. Buka Google Chrome / Mozilla Firefox

    * Ketikkan di address box Localhost 

    * Pilih WordPress-36 ( folder hasil ekstrak wordpress sebelumnya) -> klik WordPress

*  Lalu tampil laman seperti gambar dibawah ini -> klik Create Configuration File

* Kemudian klik Lets Go hingga tampilan berubah seperti gambar ini

# Anda isikan #

Database Name : dbwordpress ( sesuaikan dengan database yang anda buat tadi)

User Name : root

Password : kosongkan

Database Host : tidak usah diganti

Table Prefix : tidak usah diganti

Klik Submit

* Klik Run the install

*  Isikan

Site Title Isikan Judul Website anda

Username Masukkan nama login wp anda

Password twice Isikan Password anda 2 kali , Jika warna hijau berarti sudah cukup aman

Your Email Masukkan Email Anda yang aktif

Klik Install WordPress

Jika berhasil akan tampil seperti gambar dibawah ini, kemudian klik Login untuk masuk ke Dashbord anda

Instalasi WordPress selesai

Malam Ahad, 6 Juni 2015, bersamaan dengan malam final Liga Champion di Berlin, menghadirkan suasana pojok kompleks kampus yang berbeda. Panggung kecil yang temaram di depan Fakultas Sastra, Universitas Muhammadiayh Purwokerto, dikelilingi oleh lilin-lilin kecil dan dua lilin besar merah. Romantis. Kesan itu yang langsung “menyergap” orang-orang yang datang pada momen itu. Mahasiswa sastra tengah memulai malam sakral mereka, “Imoet English Nite”. Ritual yang mereka prakarsai untuk menyalurkan bakat dan kesenangan mereka dalam bingkai indah kompetensi bahasa Inggris. Salah satu menu yang dinanti kebanyakan audiens adalah pementasan lakonPeang Penjol, legenda humor dari Banyumas dari tahun 1980-an.

 

Malam itu, mereka menampilkan lakon Guyon Dadi Lakon (GDL). Guyonan yang biasanya hanya bisa dinikmati via audio kini ditampilkan dalam pentas drama. Sebagian besar dialog dari lakon asli coba dipertahankan, termasuk dialek Banyumasan yang sangat asli dan mbleketaket. Peang Penjol adalah kelompok dagelan yang sangat mengandalkan bahasa sebagai media penciptaan humor sehingga pemertahanan perangkat verbal dalam pentas tersebut sangat penting untuk menghadirkan kelucuan itu kepada penonton. Mahasiswa  yang pada umumnya tidak mengenal Peang Penjol itu tetap bisa menikmati guyonan itu meskipun kadang mereka tidak tahu persis arti dari kata-kata yang diucapkan oleh pemain di panggung, terlebih lagi mereka yang datang dari luar Banyumas. Bahkan, pemain pun ternyata juga tidak mengerti beberapa kata-kata yang berulang-ulang mereka ucapakan, seperti kata jewawut, jenis rumput dalam dialek tersebut.

 

Lakon GDL sendiri menceritakan kisah yang cukup serius. Cerita yang mengingatkan pada legenda-legenda besar Oedipus Rex, atau Sangkuriang. Lakon tentang pertemuan cinta antara Ibu dengan sang anak, yang dipisahkan oleh nasib. Hanya saja yang menjadi tumpuan ceritanya adalah sang Ibu. Balutan genre humor menjadikan kisah tersebut menjadi sangat ringan dan tidak mengharu-baru, karena pada akhirnya perkawinan ibu-anak tersebut batal, karena pertemuan sang ibu dengan calon mertua, yang adalah sang suami yang terpisah puluhan tahun. Gaya penutupan lakon dengan menyebutkan judul cerita sebagai tanda akhir mengingatkan kita pada panggung-panggung masa lampau, seperti Srimulat atau ketoprak di TVRI. Bungkukan yang menyusul seruan bersama, “Kiye sing dearani Guyon Dadi Lakon”,  disambut tepukan riuh penonton di depan panggung.

 

Serasa Suliyah muda, yang diperankan oleh Sovian Nisa, hadir benar-benar di panggung itu. Kelenjehan dan kepedean sang Srikandi dagelan seperti melekat dan benar-benar membius penonton. Respon-respon nakal dari penonton yang memang teman-teman sendiri pun mampu disambut dan dikemas menjadi bagian dari cerita. Dan pembawaan dialek Banyumasan yang sangat kental dari pemeran Peang menjadikan legenda humor Banyumasan serasa dibangkitkan dari ketiadaan. Upaya yang telah dirintis oleh para mahasiswa kreatif dari Fakultas Sastra UMP tersebut patut diapresiasi dan didorong untuk terus mengembangkan. Banyak fungsi dan makna dari pementasan tersebut, salah satunya adalah revitalisasi budaya daerah yang memiliki peran strategis bagi pembangunan daerah dan pembangunan karakter bangsa. Semoga panggung-panggung serupa bisa melahirkan Peang Penjol baru, membangkitkan sang legenda humor sebagai cinderamata budaya di Banyumas (Khristianto).

A Korean Hospitality for UMP

DetailsCategory: News and EventsWritten by Garett GriffithHits: 202
In a progressing world it is no surprise that ties continue to form across cultures. The evening of the 26th of May was no exception, as culture was experienced in a language that is universally understood, through food. Korean national Kang Eui Ja graciously hosted the BIPA instructors and International Affairs Office staffs to a traditional Korean meal, complete with Bibimbap, Kimchi, Bulgogi, and signature stainless steel chopsticks! Bibimbap, a healthy combination of vegetables mixed with a special sauce and rice, kimchi, fermented cabbage, and bulgogi, commonly known as Korean barbeque, all brought new and delicious tastes to pallets unaccustomed to such flavors. Portraying Kang Eui Ja as not only a marvelous host, but as a fantastic chef as well.

In addition to cooking, Kang Eui Ja diligently studies in ‘Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing’ (BIPA) program of UMP, a six-month program designed to provide students with competency in Bahasa Indonesia. After having lived in Indonesia for a number of years with her husband, Kang Eui Ja decided that it was time to understand the culture through learning the language. She has already completed two months of the program and has already grown fond of the language as well as the staff.

Jumat, 28 Maret 2014

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PERTANIAN

 

KATA PENGANTAR

 

Segala puji bagi Allah SWT yang atas rahmat dan karuniaNya tulisan ini dapat penulis dapat menyususun malakah ini. Pada tulisan ini penulis mencoba mengungkapkan peranan pertanian dalam masyarakat perkotaan. Apa dan bagaimana manusia berperan dalam kehidupan sehari hari.

Penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua kalangai sebagai sumber informasi maupun referensi dalam kajian-kajian mata kuliah Pengantar Ilmu Pertanian . Penulis juga berharap semoga pemaparan tentang pengantar ilmu pertnaian yang membahas sub materinya yakni agribisnis ini dapat menambah wawasan para teman-teman mahasiswa sekalian

Akhirnya penulis memohon maaf apabila ada kajian dan penyajian yang kurang baik dalam tulisan ini dan untuk itu penulis membuka diri untuk menerima saran dan kritik konstruktif bagi perbaikan laporan ini.

 

DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar i

Daftar Isi ii

BAB I PENDAHULUAN 1

  1. LATAR BELAKANG 1
  2. RUMUSAN MASALAH 5
  3. TUJUAN 5

BAB II KEADAAN UMUM LOKASI PRAKTEK 6

TEMPAT DAN WAKTU 6

BAB III PEMBAHASAN 7

  1. PENGERTIAN PENYULUHAN PERTANIAN 7
  2. FALSAFAH PENYULUHAN PERTANIAN 10
  3. KEADAAAN PETANI MARKISA DI DESA RUMBIA KABUPATEN JENEPONTO SETELAH PENYULUH MEMASUKI DESA RUMBIA 11

BAB IV PENUTUP 13

  1. KESIMPULAN 13
  2. SARAN 13

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. LATAR BELAKANG

Penyuluhan dalam arti umum merupakan suatu ilmu sosial yang mempelajari sistem dan proses perubahan pada individu dan masyarakat agar dengan terwujudnya perubahan tersebut dapat tercapai apa yang diharapkan sesuai dengan pola atau rencananya. Penyuluhan dengan demikian merupakan suatu sistem pendidikan yang bersifat non formal atau suatu sistem pendidikan diluar sistem persekolahan yang biasa, dimana orang ditunjukkan cara-cara mencapai sesuatu dengan memuaskan sambil orang itu tetap mengerjakannya sendiri, jadi belajar dengan mengerjakan sendiri (Kartasapoetra, 1991). Metode penyuluhan menurut hubungan penyuluhan dan sasarannya berdasarkan hubungan penyuluhan kesasarannya, metode penyuluhan dibedakan menjadi 2 macam yaitu :

  1. Komunikasi langsung, baik melalui percakapan tatap muka atau lewat media tertentu (telepon, faksimili) yang memungkinkan penyuluhan dapat berkomunikasi secara langsung (memperoleh respons) dari sasarannya dalam waktu yang relatif singkat.
  2. Komunikasi tak langsung, baik lewat perantara orang lain, lewat surat atau media yang lain yang tidak memungkinkan penyuluh dapat menerima respon dari sasarannya dalam waktu yang relatif singkat (Mardikanto, 1994).

Berbagai pengamatan menunjukkan bahwa penyuluhan baik Penyuluhan Pertanian Spesialis (PPS) maupun Penyuluhan Pertanian Lapangan (PPL) belum mendapatkan informasi hasil penelitian yang mereka perlukan secara kesinambungan. PPS yang sebagian dari tugasnya diharuskan untuk melatih PPL secara teratur merasakan kurangnya informasi hasil penelitian untuk mendukung kegiatan itu yang akhirnya berlanjut kepada kurang efektifnya latihan dan kunjungan PPL ke petani. Penelitian sering pula dinilai kurang efektif karena tidak langsung berkaitan dengan masalah lapangan yang dihadapi oleh petani dan penyuluh. Peneliti kurang menerima umpan balik yang mereka perlukan untuk menyusun program penelitian, kondisi ini secara jelas memperlihatkan belum memadainya keterkaitan antara penelitian dan penyuluhan (Anonim, 1992).

Didalam kenyataannya, kualifikasi penyuluhan tidak cukup hanya dengan memenuhi persyaratan keterampilan sikap dan pengetahuan saja, tetapi keadaan atau latar belakang sosial budaya, bahasa, agama, kebiasaan-kebiasaan. Seringkali justru lebih banyak menentukan keberhasilan penyuluhan yang dilakukan. Karena itu penyuluhan yang baik, sejauh mungkin harus memiliki latar belakang sosial budaya yang sesuai dengan keadaan seorang penyuluh akan bertugas di wilayah kerja yang memiliki kesenjangan sosial budaya yang telah dimilikinya (Mardikanto, 1994). Ragam materi yang perlu disiapkan dalam setiap kegiatan penyuluhan mencakup :

  1. Kebijakan dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembangunan pertanian (baik dari tingkat pusat maupun sampai di tingkat lokalitis), seperti pola kebijakan umum pembangunan pertanian, kebijakan harga dasar atau penyaluran kredit.
  2. Hasil-hasil penelitian atau pengujian dan rekomendasi teknis yang dikeluarkan untuk instansi yang berwenang.
  3. Pengalaman petani yang telah berhasil.
  4. Informasi pasar seperti harga barang, penawaran dan permintaan
    (Mardikanto, 1994).

Dalam bahasa Belanda digunakan kata “voorlichting“ yang berarti memberi penerangan untuk menolong seseorang menemukan jalannya. Istilah ini digunakan pada masa kolonial bagi negara-negara jajahan Belanda, walaupun sebenarnya penyuluhan diperlukan oleh kedua pihak. Indonesia misalnya, mengikuti cara Belanda menggunakan kata penyuluhan, sedangkan Malaysia yang dipengaruhi bahasa Inggris menggunakan kata perkembangan. Bahasa Inggris dan Jerman masing-masing mengistilahkan sebagai pemberian saran atau beratung yang berarti seorang pakar dapat memberikan petunjuk kepada seseorang tersebut yang berhak untuk menentukan pilihannya (Van den Ban dan Hawkins, 1999).

Kegiatan penyuluhan sebenarnya bukanlah sekedar penyampaian informasi dan menerangkan segala sesuatu yang perlu kita terangkan kepada masyarakat, akan tetapi penyuluhan bertujuan agar masyarakat benar-benar memahami, menghayati dan atas kesadarannya sendiri mau menerima, menerapkan dan melaksanakan sesuatu yang terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan pribadi, keluarga, dan masyarakatnya serta kemajuan bangsa dan negara. Dapat dikatakan, penyuluhan bukanlah kegiatan pengubahan perilaku melalui pemaksaan atau ancaman-ancaman, tetapi penyuluhan adalah upaya pengubahan perilaku melalui proses pendidikan, sehingga kegiatan penyuluhan sungguh tidak gampang, tetapi memerlukan ketekunan, kesabaran, menuntut banyak waktu, tenaga, biaya dan merupakan pekerjaan yang sangat melelahkan (Anonim, 1991).

Pada unit yang paling kecil di daerah pedesaan, pendekatan berdasarkan kelembagaan dalam proses adopsi inovasi adalah melalui lembaga yang disebut dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP). Di BPP ini ada sejumlah penyuluh pertanian, mereka merencanakan dan membuat programa penyuluhan, kemudian dituangkan dalam praktek, misalnya melalui Demonstrasi Plot (Demoplot), Demonstrasi Farm (Demfarm), Demonstrasi Area (Demarea), atau melalui cara lain. Selanjutnya oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan pembantu-pembantunya ditingkat desa, yaitu para kelompok tani, maka informasi tersebut diteruskan kepara petani, apakah melalui cara kunjungan, rapat atau lainnya (Soekartawi, 1992). Dalam prakteknya penempatan penyuluh dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

  1. Penyuluh lapangan yaitu seorang penyuluh ditempatkan di Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian (WKPP).
  2. Penyuluh tingkat kecamatan yang ditempatkan di Balai Penyluhan Pertanian (BPP).
  3. Penyuluh tingkat kabupaten yang ditempatkan di Dinas Lingkup Pertanian Dati II.
  4. Penyuluh tingkat provinsi yang ditempatkan di Dinas Lingkup Pertanian Dati I maupun Balai Informasi Pertanian.
  5. Penyuluh tingkat nasional yang ditempatkan di Badan Pengendalian Bimas
    (Suhardiyono, 1992).

Salah satu unsur utama yang menyebabkan kurangnya partisipasi masyarakat adalah lemahnya komunikasi antara penyuluh dengan masyarakatnya, karena kurang adanya kontak pribadi yang disebabkan oleh :

  1. Bentuk komunikasi yang paling efektif adalah tatap muka.
  2. Kebutuhan serta kemampuan masyarakat bawah umumnya bersifat situasional dan bersifat individual (orang per orang).
  3. Semua kegiatan dan bantuan, cenderung diawasi oleh pemerintah atau penyedia sumber dana yang sering membatasi ruang gerak dan kelincahan penyuluh(Mardikanto, 1991).

Sistem penyuluhan akan sangat tidak efektif bila terdapat kekurangan-kekurangan teknis seperti kurangnya informasi, dan teknologi yang memadai yang bisa disampaikan ke petani. Selain itu adanya kekurangan staf dan model penyuluhan menyangkut penyebaran informasi dan teknik penyampaian adalah contoh dari faktor penghambat kelancaran penyuluhan (Bayer et al, 1999)

  1. RUMUSAN MASALAH
  2. Apakah pengertian penyuluh..??
  3. Bagaimanakah falsafah penyuluhan pertanian..??
  4. Bagaimanakah keadaan petani markisa di Desa Rumbia Kabupaten Jeneponto setelah penyuluh memasuki Desa tersebut..??

 

  1. TUJUAN
  2. Menjelaskan apa pengertian penyuluhan pertanian
  3. Falsafah penyuluhan pertanian
  4. Keadaan petani markisa di Desa Rumbia Kabupaten Jeneponto setelah penyuluh memasuki Desa Rumbia


 

BAB II

KEADAAN UMUM LOKASI PRAKTEK

 

TEMPAT & WAKTU

Praktek Dasar-dasar Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian ini dilaksanakan di Desa Rumbia Kabupaten Jeneponto Yang berlangsung pada Hari Minggu, Tanggal 23 Juni 2013, pukul 07.30 sampai selesai di ikuti oleh mahasiswa kelas 2D Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah makassar.

 


 

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian Penyuluhan Pertanian

Istilah penyuluhan dikenal secara luas dan diterima oleh mereka yang bekerja di dalam organisasi pemberi jasa penyuluhan, tetapi tidak demikian halnya bagi masyarakat luas. Karena belum ada definisi yang disepakati, diperlukan untuk memberikan pandangan serta dampak yang ditimbulkannya.

Kata penyuluhan dalam kamus besar bahasa Indonesia berasal dari kata dasar “suluh” yang artinya seperti obor atau barang yang dipakai untuk menerangi. Pada awal sejarahnya dahulu, Van Den Ban (1999) dalam perjalanannya mencatat beberapa istilah penyuluhan seperti di belanda disebut voorlichting, di jerman dikenal sebagai advisory work (berating),vulgarization (Prancis), dan capacitation (Spanyol). Rolling (1988) dalam Mardikanto (2009) mengemukakan bahwa Freire (1973) pernah melakukan protes terhadap kegiatan penyuluhan yang berseifat top-down. Karena itu, dia kemudian menawarkan beragam istilah pengganti extension seperti: animation, mobilization, conscientisation. Di Indonesia dipergunakan istilah penyuluhan sebagai terjemahan dari voorlichting.

Menurut Van Den Ban (1999), penyuluhan merupakan keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sesamanya memberikan pendapat sehingga bisa membuat keputusan yang benar. Sebagai contoh : Suatu kegiatan penyuluhan tanaman pangan, dimana seorang penyuluh membantu memberikan informasi yang jelas dan lengkap kepada para petani tentang pentingnya menanam tanaman pangan untuk menjaga keamanan pangan rumah tangga, daerah dan negara, sehingga para petani dapat mempertimbangkan betapa pentingnya menanam tanaman pangan dan pada akhirnya itu menjadi salah satu pertimbangan oleh petani dalam mengambil keputusan komoditi apa yang akan ditanamnya di lahan pertaniannya.

Pengertian penyuluhan dalam arti umum adalah ilmu sosial yang mempelajari sistem dan proses perubahan pada individu serta masyarakat agar dapat terwujud perubahan yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan Setiana. L. dalam Kartono (2008).

Hubeis (2007) Menyatakan bahwa penyuluhan adalah sebagai proses pembelajaran (pendidikan nonformal) yang ditujukan untuk petani dan keluarganya dalam pencapaian tujuan pembangunan. Maksudnya bila di contohkan adalah seperti suatu kegiatan penyuluhan Keluarga Berencana (KB) yang dahulu intensif dilakukan kepada masyarakat, termasuk masyarakat petani yang pada umumnya golongan menengah ke bawah. Hal ini dilakukan dahulu secara intensif sehingga bisa menekan laju pertumbuhan penduduk dan bisa meningkatkan perekonomian rakyat sedikit demi sedikit guna mencapai tujuan dari pembangunan.

Mardikanto (2009) mengemukakan bahwa kegiatan penyuluhan diartikan dengan berbagai pemahaman seperti:

  1. Penyebarluasan (informasi)
  2. Penerangan/penjelasan
  3. Pendidikan non-formal (luar-sekolah)
  4. Perubahan perilaku
  5. Rekayasa sosial
  6. Pemasaran inovasi
  7. Perubahan sosial (perilaku individu, niilai-nilai, hubungan antar individu, kelembagaan dan lain-lain)
  8. Pemberdayaan masyarakat (community empowerment)
  9. Penguatan Komunitas (community strengthening)

Karena itu menurut mardikanto (2003), penyuluhan pertanian merupakan suatu proses perubahan sosial, ekonomi dan politik untuk memberdayakan dan memperkuat kemampuan masyarakat melalui proses belajar bersama yang partisipatif, agar terjadi perubahan dalam prilaku pada diri semua stakeholders (individu, kelompok, kelembagaan) yang terlibat dalam proses pembangunan, demi terwujudnya kehidupan yang semakin berdaya, mandiri, dan partisipatip yang semakin sejahtera secara berkelanjutan. Sebagai contoh untuk hal ini adalah program penyuluhan dari pihak swasta dalam ini LSM kepada seluruh komponen masyarkat dan pemerintahan akan pendingnya hutan sebagai paru-paru dunia. Dalam proses penyuluhan ini dilakukan dengan berbagai pendekatan sehingga munculah kesadaran dari berbagai pihak akan pentingnya kawasan hutan untuk dilindungi, dilestarikan, serta dikelola secara bijaksana. Selain dalam kegiatan penyuluhan tersebut terdapat juga didalamnya kegiatan pendampingan masyarakat desa sekitar hutan dalam upaya memberdayakan ekonomi masyarakat dan untuk menghindari masyarakat kembali mengeksploitasi hutan dengan pembentukan koperasi wanita dengan unit usaha tertentu untuk membantu perekonomian masyarakat.

Menurut rumusan UU No. 15/2006, Penyuluhan pertanian adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumber daya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup.

Masih banyak lagi pengertian dari penyuluhan itu sendiri, akan tetapi dari beberapa penjelasan diatas, cukup untuk ditarik kesimpulan bahwa : Penyuluhan Pembangunan merupakan bagian penting yang tak bisa dipisahkan dari proses pembangunan/pengembangan masyarakat dalam arti luas. Dan, penyuluhan pembangunan merupakan suatu kegiatan proses perubahan sosial, ekonomi dan politik untuk memberdayakan dan memperkuat kemampuan masyarakatmelalui proses belajar bersama yang partisipatif, agar terjadi perubahan dalam prilaku pada diri semua stakeholders (individu, kelompok, kelembagaan) yang terlibat dalam proses pembangunan, demi terwujudnya kehidupan yang semakin berdaya, mandiri, dan partisipatip yang semakin sejahtera secara berkelanjutan (sustainable). Intinya, Penyuluhan adalah kegiatan mendidik orang (kegiatan pendidikan)dengan tujuan mengubah perilakunya agar sesuai dengan yang direncanakan/dikehendaki yakni orang makin modern. Ini merupakan usaha mengembangkan (memberdayakan) potensi individu klien agar lebih berdaya secara mandiri (helping people to help themselves).

  1. Falsafah Penyuluhan Pertanian

Kata falsafah adalah bahasa Arab. Dalam bahasa Yunani adalah philosophia (philo = cinta ; Sophia = hikmah). Falsafah dalam bahasa Greek berarti love of wisdom, cinta akan kebijaksanaan yakni menunjukkan harapan/kemajuan untuk mencari fakta dan nilai kehidupan yang luhur. Plato (filosof Yunani) mengartikan falsafah sebagai ilmu pengatahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Walter Kaufmann, menyebutkan bahwa falsafah adalah pencarian kebenaran dengan pertolongan fakta-fakta dan argumentasi.

Dalam khasanah kepustakaan penyuluhan pertanian, banyak di jumpai beragam falsafah penyuluhan pertanian. Berkaitan dengan itu, Ensminger dalam Mardikanto (2009) mencatat adanya 11 (sebelas) rumusan tentang falsafah penyuluhan. Di Amerika Serikat juga telah lama dikembangkan falsafah 3-T: teach, truth, and trust (pendidikan, kebenaran dan kepercayaan/keyakinan). Artinya, penyuluhan merupakan kegiatan pendidikan untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran yang telah diyakini. Dengan kata lain, dalam penyuluhan pertanian, petani dididik untuk menerapkan setiap informasi (baru) yang telah diuji kebenarannya dan telah diyakini akan dapat memberikan manfaat (ekonomi maupun non ekonomi) bagi perbaikan kesejahteraannya. Asngari dalam Ikbal (2007) mengemukakan beberapa falsafah penyuluhan, yakni:

  1. Falsafah mendidik/pendidikan (bukannya klien “dipaksa-terpaksa terbiasa” Ki Hajar Dewantoro (Syarif Tayeb, 1977) menyebutkan bahwa dalam proses pendidikan digunakan falsafah : “hing ngarsa sung tulada (memberi/menunjukkan arah akan perubahan), hing madya mangan karsa (merangsang terjadinya perubahan), tut wuri handayani (mengembangkan dan mewujudkan potensi klien).
  2. Falsafah pentingnya individu : Pentingnya individu ditonjolkan dalam pendidikan/penyuluhan pada umumnya, sebab potensi diri pribadi seseorang individu merupakan hal yang tiada taranya untuk berkembang dan dikembangkan.
  3. Falsafah Demokrasi : Klien diberi kebebasan untuk berkembang agar mereka dapat mandiri sekaligus dapat bertanggungjawab sesuai dengan perkembangan intelektualnya.

 

  1. Keadaan Petani Markisa di Desa Rumbia Kabupaten Jeneponto Setelah Penyuluh Memasuki Desa Rumbia

Penyuluh pertanian pada dasarnya sebagai aparat atau agen yang membangun pertanian, pendidik/penasehat yang mengabdi untuk kepentingan para petani beserta keluarganya dengan memberikan motivasi, bimbingan dan mendorong para petani mengembangkan swadaya dan kemandiriannya dalam berusaha tani yang lebih menguntungkan menuju kehidupan yang lebih bahagia dan sejahtera, untuk itu seorang penyuluh pertanian dituntut untuk dapat mengembangkan program dan materinya dalam melaksanakan penyuluhan agar kinerja penyuluh lebih maksimal, namun tidak demikian yang terjadi di Desa Rumbia Kabupaten Jeneponto. Sebagai seorang penyuluh yang sudah 4 tahun di daerah tersebut menurut pengakuan beberapa warga petani markisa yang telah di wawancarai mengatakan bahwa penyuluh tidak pernah melakukan pemberian bantuan baik itu berupa bantuan pupuk, alat ataupun bantuan bibit markisa yang menjadi tanaman penunjang di Desa rumbia tersebut.

Pelaksanaan penyuluhan pertanian dilakukan harus sesuai dengan program penyuluhan pertanian. Namun masih adanya oknum penyuluh yang masa bodoh dengan daerah tempat penyuluh di tugaskan. Diantaranya , tidak member bantuan dalam mencairkan solusi atas masalah yang di hadapi oleh petani markisa, masalah penanggulangan penyakit yang menyerang tanaman markisa seperti semut dan lalat kuning. Program penyuluhan pertanian dimaksudkan untuk memberikan arahan, pedoman, dan sebagai alat pengendali pencapaian tujuan penyelenggaraan penyuluhan pertanian, Program penyuluhan pertanian terdiri dari program penyuluhan pertanian desa, program penyuluhan pertanian kecamatan, program penyuluhan pertanian kabupaten/kota, program penyuluhan pertanian propinsi dan program penyuluhan pertanian nasional. (Undang-undang No 16 Tahun 2006)

BAB IV

PENUTUP

 

  1. KESIMPULAN

Sistem penyuluhan akan sangat tidak efektif bila terdapat kekurangan-kekurangan teknis seperti kurangnya informasi, dan teknologi yang memadai yang bisa disampaikan ke petani. Selain itu adanya kekurangan staf dan model penyuluhan menyangkut penyebaran informasi dan teknik penyampaian adalah contoh dari faktor penghambat kelancaran penyuluhan

Proses untuk memberikan penerangan kepada masyarakat (petani) tentang segala hal yang belum diketahui untuk dilaksanakan/diterapkan dalam rangka peningkatan produksi dan pendapatan yang ingin dicapai melalui proses pembangunan pertanian

  1. SARAN

Seharusnya agar supaya penyaluran informasi kepada petani bisa tepat pada sasarannya, penyuluh seharusnya bisa melekukan metode-metode pendekatan yang baru terhadap masyarakat. Dalam hal ini penyuluh tidak menjalankan fungsinya sebagai inovasi  yaitu menemukan hal-hal yang baru dalam penyampaian informasinya dan mengembangkan ide-ide dngan mencari informasi yang lebih menari

yun-dha15.blogspot.com/2014/03/laporanpraktikum-dasar-dasar.html

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Laporan praktikum

Sabtu 18 april 2015

Laporan praktikum pertanian organik

BAB I

PENDAHULUAN

Kompos merupakan hasil dari pelapukan bahan-bahan berupa dedaunan, jerami, kotoran hewan, sampah kota dan sebagainya. Proses pelapukan bahan-bahan tersebut dapat dipercepat melalui bantuan manusia. Secara garis besar membuat kompos berarti merangsang pertumbuhan bakteri (mikroorganisme) untuk menghancurkan atau menguraikan bahan-bahan yang dikomposkan sehingga terurai menjadi senyawa lain. Proses yang terjadi adalah dekomposisi, yaitu menghancurkan ikatan organik molekul besar menjadi molekul yang lebih kecil, mengeluarkan ikatan CO2 dan H2O serta penguraian lanjutan yaitu transformasi ke dalam mineral atau dari ikatan organik menjadi anorganik. Proses penguraian tersebut mengubah unsur hara yang terikat dalam senyawa organik yang sukar larut menjadi senyawa organik yang larut sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman.  Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, mengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan.

Tujuan praktikum ini untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana proses pembuatan kompos dan komponen apa saja yang dibutuhkan dalam pembuatan kompos. Manfaat praktikum ini adalah dapat mengetahui pembuatan kompos yang baik dan benar.

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.  Pupuk Organik

Pupuk organik adalah nama kolektif untuk semua jenis bahanorganik asal tanaman dan hewan yang dapat dirombak menjadi haratersedia bagi tanaman. Dalam Permentan No.2/Pert/Hk.060/2/2006, tentang pupuk organik dan pembenah tanah, dikemukakan bahwa pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahanorganik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Definisi tersebut menunjukkan bahwa pupuk organik lebih ditujukan kepada kandungan C-organik atau bahan organik daripada kadar haranya, itulah yang menjadi pembeda dengan pupuk anorganik (Deptan, 2006).Pupuk organik adalah pupuk yang memiliki kandungan unsur hara rendah dan variatif. Pupuk organic memiliki keunggulan yaitu dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah (Sutanto, 2002).

2.1.1.  Bahan

Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan -bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik (Crawford, 2003). Kompos merupakan hasil dari pelapukan bahan-bahan berupa daun- daunan, jerami, alang-alang, rumput, kotoran hewan, sampah kota dan lain sebagainya yang proses pelapukannya bisa dipercepat lewat bantuan manusia (Sutanto, 2002).

 

2.1.2.  Sumber Mikroorganisme

Secara keseluruhan proses dekomposisi umumnya meliputi spektrum yang luas dari mikroorganisme yang memanfaatkan substrat tersebut. Kelompok organisme yang berperan aktif dalam proses pengomposan adalah mikroflora (aktinomisetes, fungi), mikrofauna (bakteri, protozoa), makrofauna (fungi), maupun Makrofauna (cacing, semut) (Indriani, 2000). Aktivitas mikroba membantu tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah dan menghasilkan senyawa yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Aktivitas mikroba tanah juga diketahui dapat membantu tanaman menghadapi serangan penyakit. lewat proses alamiah (Sutanto, 2002).

 

2.1.3.  Lingkungan

Setiap organisme pendegradasi bahan organik membutuhkan kondisi lingkungan dan bahan yang berbeda-beda. Apabila kondisinya sesuai, maka dekomposer tersebut akan bekerja giat untukmendekomposisi limbah padat organik. Apabila kondisinya kurang sesuai atau tidak sesuai,maka organisme tersebut akan dorman, pindah ke tempat lain, atau bahkan mati. Menciptakankondisi yang optimum untuk proses pengomposan sangat menentukan keberhasilan proses pengomposan itu sendiri (Nuryani, 2002).Kompos adalah hasil penguraian berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik (Crawford, 2003).

 

2.2.  Uji Organoleptik

Pengujian organoleptik adalah ilmu pengetahuan yang menggunakan inderamanusia untuk mengukur tekstur, penampakan, aroma dan flavor produk pangan.Penerimaan konsumen terhadap suatu produk diawali dengan penilaiannya terhadap penampakan, flavor dan tekstur (Fadhilah, 2013).Anoleptik merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam menganalisis kualitas dan mutu produk, oleh karena itu dalam tulisan blog ini saya akan menjelaskan apa saja komponen-komponen dalam organoleptik (Mujirahayu, 2013).

2.2.1.  Tekstur

Kompos dikatakan sudah matang apabila bahan telah berstruktur remah dan gembur (bahan menjadi rapuh dan lapuk, menyusut dan tidak            menggumpal) (Murbandono, 2006).Ciri-ciri kompos yang baik adalah berstruktur remah serta berkonsistensi gembur (Sutejo, 1990).

 

2.2.2.  Warna

Kompos dikatakan sudah matang apabila bahan berwarna coklat kehitam-hitaman (Murbandono, 2006).Kompos dikatakan bagus dan siap digunakan jika tingkat kematangannya sempurna. Kompos yang baik dapat dikenali dengan memperhatikan bentuk fisiknya yaitu sudah menyerupai tanah yang berwarna hitam (Simamora, 2006).

 

2.2.3.  Bau

Kompos dikatakan bagus dan siap digunakan jika tidak mengeluarkan bau busuk.Kompos yang baik dapat dikenali dengan memperhatikan bentuk fisiknya, jika diraba, suhu tumpukan bahan yang dikomposkan sudah dingin, mendekati suhu ruang, tidak mengeluarkan bau busuk, bentuk fisiknya sudah menyerupai tanah(Simamora, 2006).Indikator yang dapat diamati secara langsung adalah jika kompos tidak berbau busuk (berbau tanah) (Deptan, 2006).

 

2.3.  pH

Keasaman atau pH dalam tumpukan kompos juga mempengaruhi aktivitas mikroorgaisme. Kisaran pH yang baik sekitar 6,5-7,5 (netral). Dalam proses pengomposan sering diberi tambahan kapur atau abu dapur untuk menaikkan pH (Indriani, 2000).Derajat keasaman pada awal proses pengomposan akan mengalamipenurunan karena sejumlah mikroorganisme yang terlibat dalam pengomposan mengubah bahan organik menjadi asam organik. Pada proses selanjutnya, mikroorganisme dari jenis lain akan mengkonversikan asam organik yang telahterbentuk sehingga bahan memiliki derajat keasaman yang tinggi dan mendekatinormal (Djuarnaniet al., 2005).

 

 

 

 

 

BAB III

MATERI DAN METODE

Praktikum Pertanian Organik dengan acara pembuatan kompos telah dilaksanakan pada tanggal 2 Mei – 19 Juni 2014 di Rumah Kaca dan Laboratorium Ekologi dan Produksi Tanaman, Universitas Diponegoro, Semarang.

3.1.  Materi

Alat yang digunakan dalam praktikum pembuatan pupuk kompos adalah cangkul atau sekop untuk menggali tanah. Ember untuk tempat kotoran ternak dan tempat untuk pengomposan anaerob. Plastik untuk menutup pupuk. Tali rafia untuk mengikat plastik pada ember agar tidak mudah lepas. Bahan yang digunakan dalam praktikum pengomposan pupuk adalah kotoran ternak yang sudah kering, abu gosok dan stardek.

3.2.  Metode

Metode yang dilakukan dalam praktikum pembuatan pupuk kompos secara aerob adalah menyiapkan kotoran ternak yang sudah kering. Menggali lubang dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm mengisi lubang dengan kotoran ternak setinggi 10 cm. Melapisi  kotoran ternak dengan abu gosok secara merata setinggi 1 cm. menambahkan stardek secukupnya. Mengaduk hingga rata. Menutup pupuk dengan plastik. Menutup dengan tanah. Membalik pupuk tiap 2 minggu sekali. Metode yang dilakukan dalam praktikum pembuatan pupuk kompos secara anaerob adalah menyiapkan kotoran ternak yang sudah kering. Memasukkan kotoran ternak setinggi 10cm ke dalam ember. Melapisi kotoran ternak dengan abu gosok setinggi 1 cm dan stardek secukupnya. Memasukkan kotoran ternak, abu gosok dan stardek hingga ember penuh. Mengaduknya hingga rata. Menutup ember dengan plastik sehingga tidak ada udara yang masuk. Mengikat plastik pada ember dengan tali rafia agar plastik tidak mudah lepas. Membalik pupuk tiap 2 minggu sekali.

Metode yang digunakan pada uji organoleptic pada pupuk kondisi aerobic adalah menggali tanah tempat ditanamnya pupuk. Membuka plastik pembatasnya. Menganalisa dengan mengamati tekstur, warna, dan baunya. Sementara metode yang digunakan pada pupuk kondisi anaerob adalah membuka ikatan plastic pada ember. Menganalisa dengan mengamati tekstur, warna, dan baunya.

 

Metode yang digunakan dalam uji pH adalah mengambil sampel pupuk yang berada di tanah dan yang berada di ember secukupnya. Memasukkan kertas pH kedalam tumpukan pupuk selama 1 menit.  Mengamati perubahan warna yang terjadi. Mencocokkan dengan indikator pH.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Uji Organoleptik

4.1.1. Tekstur

Pupuk dalam media ember dan tanah dapat menghasilkan tekstur sebagai berikut:

Tabel 3. Tekstur pupuk

Pupuk Tekstur
Ember Tanah
Minggu ke-2 Halus Halus
Minggu ke-4 Halus Halus
Minggu ke-6 Agak kasar Agak kasar

 

Pupuk pada media tanah dan media ember mengalami perubahan yang bermula bertekstur halus karena lebih dominan pada bahan kotoran sapi yang lembab semakin lama berubah menjadi agak kasar atau gembur karena mengalami proses reaksi dalam tanah yang dibantu oleh mikroorganisme. Apabila perubahan telah menjadi gembur maka pupuk sudah siap pakai atau telah matang. Hal ini sesuai dengan pendapat Murbandono (2006)  yang menyatakan bahwa kompos dikatakan sudah matang apabila bahan telah berstruktur remah dan gembur (bahan menjadi rapuh dan lapuk, menyusut dan tidak menggumpal). Hal tersebut diperkuat dengan pendapat Sutejo (1990) yang menyatakan bahwa ciri-ciri kompos yang baik adalah berstruktur remah, berkonsistensi gembur.

4.1.2. Warna

Pupuk dalam media ember dan tanah dapat menghasilkan warna sebagai berikut:

Tabel 4. Warna pupuk

Pupuk Warna
Ember Tanah
Minggu ke-2 Hijau tua pekat Kehitaman
Minggu ke-4 Hijau ke hitamaan Hitam
Minggu ke-6 Hitam Hitam

 

Pupuk pada media tanah dan media ember mengalami perubahan yang bermula warna hijau tua pekat disebabkan oleh kotoran sapi kemudian semakin lama semakin berubah menjadi hitam. Jika pupuk telah berwarna coklat kehitaman maka pupuk sudah dikatakan matang. Hal ini sesuai dengan pendapat Murbandono (2006) yang menyatakan bahwa kompos dikatakan sudah matang apabila bahan berwarna coklat kehitam-hitaman (bahan menjadi rapuh dan lapuk, menyusut dan tidak menggumpal). Simamora (2006) juga berpendapat bahwa kompos dikatakan bagus dan siap digunakan jika tingkat kematangannya sempurna. Kompos yang baik dapat dikenali dengan memperhatikan bentuk fisiknya yaitu sudah menyerupai tanah yang berwarna hitam.

4.1.3. Bau

Pupuk dalam media ember dan tanah dapat menghasilkan bau sebagai berikut:

Tabel 5. Bau pupuk

Pupuk Bau
Ember Tanah
Minggu ke-2 Kotoran sapi Kotoran sapi
Minggu ke-4 Kotoran sapi Tidak berbau
Minggu ke-6 Tidak berbau Tidak berbau

 

Pupuk pada media tanah dan media ember mengalami perubahan yang bermula bau seperti kotoran sapi kemudian lambat-laun menjadi tidak berbau. Jika pupuk sudah tidak berbau maka pupuk dikatakan hasil yang baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Simamora (2006) yang menyatakan bahwa kompos dikatakan bagus dan siap digunakan jika tingkat kematangannya sempurna. Kompos yang baik dapat dikenali dengan memperhatikan bentuk fisiknya, jika diraba, suhu tumpukan bahan yang dikomposkan sudah dingin, mendekati suhu ruang, tidak mengeluarkan bau busuk, bentuk fisiknya sudah menyerupai tanah. Hal tersebut diperkuat dengan pendapat Deptan (2006) menyatakan bahwa indikator yang dapat diamati secara langsung adalah jika kompos tidak berbau busuk (berbau tanah).

 

4.2. pH

Pupuk dalam media ember dan tanah dapat menghasilkan pH sebagai berikut:

Tabel 6. pH pupuk

Media pH
Ember 7
Tanah 6

 

Pupuk pada media tanah setelah diambil sampel kemudian diberikan kertas lakmus dan di analisis yang menghasilkan tanah ber-pH 7 atau netral dan pada media tanah ber pH 6. Jika pH netral maka pupuk dikatakan baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Indriani (2000) yang menyatakan bahwa keasaman atau pH dalam tumpukan kompos juga mempengaruhi aktivitas mikroorgaisme. Kisaran pH yang baik sekitar 6,5-7,5 (netral). Oleh karena itu, dalam proses pengomposan sering diberi tambahan kapur atau abu dapur untuk menaikkan pH. Hal tersebut di perkuat dengan pendapat Djuarnani (2005) yang menyatakan bahwa derajat keasaman pada awal proses pengomposan akan mengalamipenurunan karena sejumlah mikroorganisme yang terlibat dalam pengomposan mengubah bahan organik menjadi asam organik. Pada proses selanjutnya, mikroorganisme dari jenis lain akan mengkonversikan asam organik yang telahterbentuk sehingga bahan memiliki derajat keasaman yang tinggi dan mendekatinormal.

 

 

BAB V

SIMPULAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum pertanian organik dengan memberi pupuk organik dapat disimpulkan bahwa padda media ember mengalami perubahan secara bertahap dimulai dari segi tekstur yang terus berubah, berawal dari halus akibat dari kotoransapi menjadi agak kasar karena perubahan dari tanah yang disebabkan sebuah proses pelapukan yang dibantu oleh organisme. Pada warna dan bau pun mengalami hal yang demikian perubahannya. Ketika proses pempukan usai dalam kurun waktu dua bulan maka pupuk dilakukan pengukuran pH dengan menggunakan kertas lakmus. Hasil yang diperoleh yaittu pada medis ember ber pH 7 dan padda media tanah ber pH 6. Ini membuktikan hasil pupuk yang diperole merupakan pupuk yang baik. Pupuk dikatakan baik atau sempurna jika telah bertekstur agak kasar atau gembur, berwarna coklat kehitaman, tidak berbau dan ber-pH netral. Dengan demikian pupuk sudah siap pakai.

 

5.2. Saran

Lebih disiplinkan saat praktikum dan jalin komunikasi yang baik antar mahasiswa dan asiseten dosen sehingga tidak terjadi ketimpangan waktu dan prolema sistem.

 

 

 

 

                                                       DAFTAR PUSTAKA

Deptan, 2006. Teknik Pembuatan Kompos. http://deptan.go.id. Akses 02 Juni 2014.

Djuarnani, N., Kritian., BS Setiawan., 2005. Cara Cepat Membuat Kompos. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Fadhilah, Eva. 2013. Uji Organoleptik – Uji Hedonik Kopi. UGM Press, Yogyakarta.

Indriani, Y.H., 2000. Membuat Kompos Secara Kilat. Penebar Swadaya, Jakarta.

Mujuirahayu. 2013. Uji Organoleptik. (online). http://mujirahayu69.blogspot. com/2013/03/organolepti.html. 3 Juli 2014.

Murbandiono, 2008. Membuat Kompos Edisi Telivisi. Penebar Swadaya, Jakarta.

Nuryani dan Rachman.2002.Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan volume 3.UGM press, Yogyakarta.

 

Sutanto, R. 2002. Pertanian Organik: Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

 

Simamora, S. 2006. Meningkatkan Kualitas Kompos. Meningkatkan Kualitas Kompos. Kiat Menggatasi Permasalahan Praktis. Agromedia Pustaka, Jakarta.

 

Toharisman, A. 1991. Potensi Dan Pemanfaatan Limbah Industri Gula Sebagai Sumber Bahan Organik Tanah. Penebar Swadaya, Jakarta.

 

 

FIKES UMP Adakan Workshop Trauma Patients

шаблоны сайтов
joomla

 

Negara Indonesia merupakan supermarketnya bencana. Bencana seperti tanah longsor, banjir dan angin puting beliung silih berganti menerjang wilayah yang ada di Indonesia. Tentunya pasca bencana menyisahkan luka mendalam bagi para korban. Hal ini menggerakan instansi bidang Kesehatan tergerak untuk meningkatkan pelayanan di bidang emergency nursing. Bertempat di gedung Rektorat aula AK Anshori Universitas Muhamamdiyah purwokerto (UMP), Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) gelar workshop assessment and nursing care in trauma patients. Hadir dalam acara Rektor UMP, Dekan FIKES, civitas Akademika UMP, pembicara, perwakilan dari RSUD dan Puskesmas di wilayah Banyumas, Purbalingga, Ajibarang serta mahasiswa pada Selasa dan Rabu 9-10 Juni 2015.

 

 

 

Dekan FIKES UMP Ns. Jebul Suroso M.Kep mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan baru perihal bagaimana teknik pelayanan gawat darurat, seperti pasien yang mengalami cidera kepala dan sebagainya. “apapun kondisinya, pelayan kesehatan tetap harus memperhatikan aspek etika, yakni privasi pasien, justice dan benefit,” tandasnya. Jebul berharap agar perawat tidak melakukan hal yang menimbulkan bahaya, namun melakukan hal yang bisa memberikan manfaat pada pasien.

 

 

 

Sama halnya yang disampaikan oleh Rektor UMP. Dr. H. Syamsuhadi Irsyad,. M.H berharap workshop ini agar didiskusikan secara mendalam serta dicermati betul. Sehingga pencerahan yang disampikan oleh pembicara dapat menghasilkan kesimpulan. “Penyegaran ilmu yang disampaikan oleh pembicara, saya berharap agar bisa dikembangkan serta bisa kita laksankana nantinya,” jelas Rektor.

 

 

 

Doktor bidang keperawatan gawat darurat asal Khon Khaen University of Thailand, Dr. Chatkhane Pearko sebagai pembicara pertama menyampikan perihal tentang assesment in trauma patients. Sementara pembicara kedua Ns. Endiyono S. Kep M.Kep, dosen FIKES UMP yang juga merupakan instruktur klinik keperawatan gawat darurat 118 menyampaikan perihal tentang organize transfer in trauma patients. Serta Ns. Eko Winarto, M.Kep., Sp. KMB, yang juga merupakan perawat di RSUD Banyumas menyampikan tentang rapidly identify assessment in Trauma patients.